Al-Aqsa Ditutup, Sepuluh Malam Terakhir Ramadan Tanpa Jamaah

 Al-Aqsa Ditutup, Sepuluh Malam Terakhir Ramadan Tanpa Jamaah

Yerusalem (Mediaislam.id) – Malam-malam terakhir bulan suci Ramadan biasanya menjadi saat paling sakral bagi umat Islam di Palestina. Puluhan ribu jamaah memadati halaman masjid, melantunkan doa di bawah langit malam, dan berdiam diri dalam i’tikaf demi meraih kemuliaan Laylat al-Qadr. Namun tahun ini, suasana itu berubah drastis.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, dua tempat suci paling penting bagi umat Islam di Palestina—Masjid Al-Aqsa di Yerusalem dan Masjid Ibrahimi di Hebron—tidak akan dibuka bagi jamaah selama sepuluh malam terakhir Ramadan akibat penutupan ketat yang diberlakukan otoritas pendudukan Israel.

Langkah tersebut memicu kemarahan luas di kalangan masyarakat Palestina, pemuka agama, dan organisasi hak asasi manusia. Banyak pihak menilai tindakan itu sebagai pelanggaran serius terhadap kebebasan beribadah serta bentuk lain dari kebijakan pembatasan sistematis terhadap akses umat Muslim ke tempat-tempat suci mereka.

Di tengah suasana Ramadan yang biasanya dipenuhi harapan dan ketenangan spiritual, ribuan warga Palestina kini hanya bisa memandang dari kejauhan, terhalang barikade militer dan pos pemeriksaan yang menutup jalan menuju rumah ibadah mereka.

Malam-Malam Ramadan yang Sunyi di Masjid Al-Aqsa

Peneliti urusan Yerusalem, Hassan Khater, mengatakan bahwa tindakan keamanan yang diberlakukan Israel secara efektif menutup akses ke kota Yerusalem dan kompleks Masjid Al-Aqsa, sehingga ribuan jamaah tidak dapat melaksanakan ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadan.

Dalam wawancara eksklusif dengan Pusat Informasi Palestina, Khater menjelaskan bahwa otoritas pendudukan menerapkan pembatasan militer yang ketat di seluruh pintu masuk menuju Yerusalem dan Kota Tua. Pos pemeriksaan diperketat, pergerakan warga Palestina dibatasi, dan akses menuju kompleks masjid praktis ditutup.

Akibatnya, ribuan jamaah yang biasanya datang dari berbagai wilayah Palestina tidak dapat memasuki kawasan tersebut untuk menunaikan salat malam, melakukan i’tikaf, atau sekadar berdiam diri dalam ibadah.

“Sepuluh malam terakhir Ramadan adalah momen paling penting bagi umat Islam untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Biasanya puluhan ribu jamaah berkumpul di Al-Aqsa untuk beribadah dan mencari kemuliaan Laylat al-Qadr,” ujar Khater.

Namun tahun ini, halaman luas masjid yang biasanya dipenuhi lantunan doa dan ayat suci berubah menjadi ruang yang nyaris kosong. Banyak keluarga Palestina yang selama bertahun-tahun menjadikan perjalanan Ramadan ke Al-Aqsa sebagai tradisi spiritual kini terpaksa membatalkan niat mereka.

Khater menilai kebijakan ini bukan sekadar langkah keamanan sementara, melainkan bagian dari strategi jangka panjang Israel untuk membatasi kehadiran Muslim di kompleks suci tersebut.

Menurutnya, langkah-langkah tersebut mencerminkan upaya berkelanjutan untuk memaksakan realitas baru di kawasan Al-Aqsa dan secara bertahap mengurangi akses umat Islam ke salah satu tempat paling suci dalam Islam.

Ia juga menyerukan kepada lembaga internasional dan organisasi hak asasi manusia agar segera bertindak.

“Tindakan ini melanggar kebebasan beribadah dan mencegah warga Palestina mengakses tempat suci mereka,” kata Khater.

“Masjid Al-Aqsa akan tetap menjadi hak eksklusif umat Muslim. Upaya pembatasan dan penutupan tidak akan memutuskan hubungan rakyat Palestina dengan tempat suci mereka.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × 4 =