Peringatan Hari Anti-Islamofobia, GNAI Serukan Gerakan Taubatan Nasuha Indonesia

 Peringatan Hari Anti-Islamofobia, GNAI Serukan Gerakan Taubatan Nasuha Indonesia

Jakarta (Mediaislam.id)–Dalam rangka memperingati International Day to Combat Islamophobia yang diperingati setiap 15 Maret, Gerakan Nasional Anti Islamofobia (GNAI) bersama Aspirasi Indonesia menggelar dialog kebangsaan bertema “Gerakan Taubatan Nasuha Indonesia” di Gedung Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Kramat Raya 45, Jakarta Pusat, Ahad (15/3/2026).

Anggota Presidium Nasional sekaligus Sekretaris Jenderal GNAI, Abu Taqi Mayestino, menegaskan bahwa Islamofobia bukan sekadar isu global, tetapi juga realitas yang perlu diwaspadai di Indonesia.

Ia menjelaskan, peringatan Hari Internasional Memerangi Islamofobia berangkat dari tragedi Christchurch mosque shootings pada 15 Maret 2019 di Christchurch, yang menewaskan 51 jamaah Muslim di dua masjid. Tragedi tersebut kemudian mendorong United Nations menetapkan 15 Maret sebagai hari internasional untuk memerangi Islamofobia.

“GNAI adalah gerakan moral gabungan dari berbagai organisasi Islam. Kami ingin bersama-sama menyambut resolusi PBB tentang Hari Anti-Islamofobia ini,” kata Abu Taqi dalam keterangannya.

Menurutnya, momentum tersebut juga menjadi ajakan untuk melakukan refleksi nasional melalui gerakan Taubatan Nasuha Indonesia. Ia menilai nilai-nilai ketuhanan dalam konstitusi Indonesia seharusnya selaras dengan penguatan nilai-nilai keagamaan di ruang publik.

“Pasal 29 Ayat 1 Undang-Undang Dasar 1945 menegaskan bahwa negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa. Di pembukaan konstitusi juga disebutkan ‘Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa’. Dengan mayoritas warga negara beragama Islam, wajar jika nilai-nilai Islami semakin diperkuat,” ujarnya.

Dalam forum tersebut juga muncul aspirasi dari sejumlah peserta yang mengusulkan pembentukan daerah khusus berbasis kearifan lokal di Minangkabau, mengacu pada semboyan “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”. Usulan itu disebut terinspirasi oleh kekhususan daerah yang dimiliki Aceh.

Abu Taqi menambahkan bahwa Islam kerap disalahpahami sebagai agama yang identik dengan budaya Arab. Padahal, menurutnya, Islam adalah ajaran tauhid yang telah dibawa oleh banyak nabi sejak awal sejarah manusia.

Ia juga menyoroti masih adanya fenomena yang dianggap sebagai bentuk Islamofobia di Indonesia, seperti polemik penggunaan jilbab atau aktivitas keagamaan di ruang publik.

“Ini gerakan moral untuk mengembalikan negara ini agar tidak fobia terhadap Islam,” katanya.

Dialog kebangsaan tersebut menghadirkan sejumlah tokoh dan akademisi, serta dihadiri oleh perwakilan organisasi masyarakat Islam. Peserta juga mendorong berbagai langkah advokasi, termasuk kemungkinan pengusulan regulasi anti-Islamofobia atau penetapan hari peringatan khusus melalui parlemen.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nine − 7 =