Israel Gunakan Bom Kimia di Gaza, Wantim MUI: Dunia Islam Harus Hentikan Genosida
KH Muhyiddin Junaidi
Bogor (Mediaislam.id) – Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengutuk keras penggunaan bom kimia dan senjata berdaya hancur tinggi oleh Israel dalam serangan terhadap warga sipil di Gaza, Palestina.
Wakil Ketua Wantim MUI KH Muhyiddin Junaidi menyebut penggunaan bom vakum terhadap warga sipil tak berdosa sebagai bukti baru kebiadaban yang melanggar prinsip-prinsip kemanusiaan dan hukum internasional.
“Penggunaan bom vakum terhadap rakyat Palestina yang tak berdosa merupakan tindakan yang sangat keji dan tidak bisa ditoleransi,” tegasnya dalam pernyataan pers, Selasa (17/2/2026).
Mengacu pada laporan investigasi media internasional Al Jazeera, disebutkan adanya indikasi penggunaan senjata thermal dan bom vakum dalam serangan di Gaza. Bom jenis ini dikenal memiliki daya ledak dan efek panas ekstrem yang dapat menghancurkan objek dalam radius luas.
Kiai Muhyiddin menilai, penggunaan senjata kimia itu merupakan pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional karena menyasar warga sipil.
Ia juga menyinggung kemiripan daya rusak bom tersebut dengan senjata penghancur massal yang pernah digunakan dalam sejarah perang dunia, yang menimbulkan dampak kemanusiaan jangka panjang. “Itu mirip dengan bom Amerika Serikat (AS) yang dijatuhkan di Herosima dan Nagasaki Jepang,” ungkapnya.
Dalam pernyataannya, Kiai Muhyiddin turut mengkritisi dugaan keterlibatan industri persenjataan Amerika Serikat dalam memasok senjata kepada Israel. Ia menilai hal tersebut memperpanjang konflik dan memperburuk krisis kemanusiaan di Gaza.
“Bom tersebut ternyata produk AS yang langsung merubah semua objeknya termasuk manusia menjadi abu dan meleleh tanpa ada yang tersisa,” jelasnya.
Pihaknya mendesak dunia internasional agar bersikap tegas terhadap penggunaan senjata yang membahayakan warga sipil. Menurutnya, jangan sampai ada pembiaran atas tragedi kemanusiaan ini.
Ia juga menyinggung dinamika politik global, termasuk upaya diplomatik yang dinilai belum mampu menghentikan eskalasi konflik. Menurutnya, tekanan terhadap negara-negara Arab dan Muslim agar menerima agenda relokasi warga Gaza menunjukkan kompleksitas situasi geopolitik yang sedang berlangsung.
Kiai Muhyiddin mengakui bahwa menyatukan sikap negara-negara Arab dan Muslim dalam merespons konflik Palestina bukan perkara mudah. Namun ia menegaskan bahwa solidaritas dan langkah kolektif sangat dibutuhkan untuk menghentikan genosida di Gaza.
“Kini Zionis tanpa merasa berdoaa menghujani rakyat palestina dengan bom biadab tersrbut. Namun belum juga puas, PM Israel masih terus meminta agar Donald Trump meyakinkan negara-negara arab dan islam menyetujui agenda sadis Zionis memindahkan warga Gaza ke negara negara sahabat. Ternyata memang tak mudah menyadarakan para penguasa negara arab dan muslim untuk bersatu melawan genosida Zionis,” tuturnya.
Menurutnya, perlu ada komitmen bersama untuk menghentikan genosida dan memastikan hak-hak rakyat Palestina dipenuhi sesuai hukum internasional. “Solusi terbaik menyelesaikan konflik Arab-Israel, memusnahkan Israel dari bumi demi perdamaian abadi di kawasan. Ini membutuhkan komitmen bersama melakukan jihad totalitas dengan kekuatan maksimal,” tegasnya. []
