Pentingnya Menjaga Akidah Islam di Era Digital

 Pentingnya Menjaga Akidah Islam di Era Digital

Ilustrasi: Penggunaan media sosial. [GettyImages]

Bogor (Mediaislam.id) – Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Muhyidin Junaidi hadir dalam pengajian komunitas “Sahabat Masjid” di Masjid Birrul Waalidain, Kabupaten Bogor, pada Jumat lalu (13/2/2026).

Dalam pemaparannya, ia menyampaikan tentang tantangan akidah umat, isu geopolitik global, serta pentingnya menjaga kedaulatan nasional. Selain itu, ia juga memaparkan sejumlah isi dari hasil Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) MUI yang membahas isu strategis yang menjadi perhatian umat saat ini.

Salah satu isu utama yang dibahas adalah menjaga agama dan akidah umat Islam dari berbagai tantangan, baik yang datang dari luar maupun dari dalam. Kiai Muhyiddin menilai bahwa ‘tantangan merupakan bagian dari dinamika kehidupan yang mendorong umat untuk terus berkembang dan meningkatkan kualitas ilmu pengetahuan.

Ia juga menilai pertumbuhan digital sekarang bisa membahayakan akidah umat, khususnya penggunaan gadget oleh anak-anak tanpa pengawasan, disebut sebagai salah satu tantangan yang perlu disikapi secara bijak oleh para orang tua.

‘’Salah satu tantangan besar saat ini adalah era digital. Orang tua harus memahami bagaimana membimbing anak dalam menggunakan gadget agar tidak masuk di dalamnya yahudinisasi dan kristenisasi yang merusak akidah ‘’ ujarnya.

Lebih lanjut, Kiai Muhyidin menekankan bahwa pendidikan akidah harus ditanamkan kepada anak sejak dini, dengan ayah dan ibu yang berperan sebagai pendidik utama (murabbi) dalam keluarga.

‘’Kita tanamkan akidah Islam sedini mungkin, karena orang tua adalah pendidik utama dirumah, walaupun bukan dari fakultas pendidikan tapi orang tua adalah pendidik dari sejak anak bangun tidur sampai tidur lagi’’ jelasnya.

Selain itu, Ia juga menyoroti berkembangnya paham sinkretisme dan relativisme agama di Indonesia. Pemahaman yang menganggap semua agama sama dan benar dinilai perlu disikapi dengan bijak serta diluruskan sesuai keyakinan masing-masing agar tidak membingungkan generasi muda.

Di tingkat global, Kiai Muhyidin menyinggung isu perdamaian dunia, termasuk persoalan Gaza dan Board of Peace (BOP). Ia menilai bahwa adanya dewan perdamaian yang didalangi oleh Amerika itu sebagai kecacatan dalam sebuah kewarganegaraan.

‘’BOP merupakan sebuah kecacatan dalam aspek kehidupan bernegara dan berbangsa, karena tidak melibatkan warga gaza, apalagi membangun suatu wilayah tanpa melibatkan penduduk asli setempat’’ ujarnya.

Lebih lanjut, Ia menekankan bahwa setiap kebijakan pembangunan wilayah konflik seharusnya melibatkan masyarakat setempat serta mengikuti mekanisme hukum internasional.

Sementara di tingkat nasional, ia menekankan agar umat menjaga kedaulatan sumber daya alam Indonesia dari praktik korupsi, pertambangan ilegal, dan kerakusan oligarki. Ia berpendapat bahwa kekayaan alam seperti air, hutan, tambang, minyak, dan gas adalah milik bersama dengan mengutip hadis nabi. Ia juga menegaskan pengelolaan sumber daya alam harus adil dan tidak merugikan bangsa.

Kiai muhyidin juga menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi luar biasa, tapi juga menghadapi rintangan yang tidak ringan. Ia juga mengajak untuk mempunyai semangat tinggi, memperkuat ilmu, menjaga aqidah serta berjuang untuk untuk kedaulatan negara.

“Kita harus memiliki semangat dan optimisme untuk merebut kembali kedaulatan rakyat dan kedaulatan nasional kita’’ pungkasnya. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × 2 =