Gurita Perangkap Kekuasaan: Dari Economic Hit Man sampai Kamera Tersembunyi Epstein
Oleh:
Dr. Maimon Herawati, S.Sos., M.Litt (Dosen Jurnalistik Fikom Unpad)
KITA hidup di era di mana kekuasaan lebih dari sekedar kepemilikan militer terkuat dengan berbagai jenis senjata pemusnah manusia. Kekuasaan saat ini berbicara tentang perebutan narasi, pengontrolan ekonomi dan pengelolaan reputasi. Kekuasaan ini dibangun melalui economic hitman John Perkins, produksi video di bawah pengaruh obat oleh P Diddy, operasi disinformasi Tal Hanan “Team Jorge”, hingga simpanan video dari jaringan kamera tersembunyi Jeffrey Epstein. Ini adalah kekuasaan atas manusia dan massa melalui mekanisme sistemik yang terselubung.
Economic Hit Man: Ketergantungan Ekonomi sebagai Alat Kontrol
Dalam bukunya Confessions of an Economic Hit Man, John Perkins mengaku bahwa ia bekerja sebagai economic hitman yaitu peran yang merupakan bagian dari sistem yang lebih besar untuk memaksa negara-negara berkembang terjebak dalam utang dan ketergantungan pada kekuatan ekonomi global besar.
Perkins menceritakan bahwa tugasnya bukan sekadar menjual proyek, tetapi meyakinkan pemimpin negara untuk menerima pinjaman besar dari institusi seperti Bank Dunia atau USAID, yang kemudian memperkuat posisi ekonomi korporasi besar dan kepentingan politik negara-negara kuat. Ia menulis tentang bagaimana utang digunakan sebagai kabel pengikat yang lambat namun kuat. Negara yang tidak mampu membayar menjadi rentan terhadap tekanan politik dan ekonomi dari luar.
Di dalam bukunya, Perkins menyebut peranannya sebagai bagian dari jaringan yang lebih luas yang mencakup pengaruh korporat dan institusi global, bahkan menyentuh nama-nama pemimpin negara seperti Presiden Panama Omar Torrijos dan Presiden Ekuador Jaime Roldós dalam konteks permainan kekuasaan global yang lebih besar. Melalui enonomic hitman, kekuasaan modern muncul dalam bentuk lunak, yaitu ekonomi.
P Diddy: Kisah Video Kompromi
Kasus P Diddy (Sean “Diddy” Combs) adalah contoh bagaimana kekuasaan reputasi dan media bisa menjadi alat pengontrol. Dalam gugatan hukum yang berjalan, sejumlah tuduhan serius dialamatkan kepadanya, dan beberapa tuduhan ini menyebut nama selebritas lain, termasuk Jay-Z dan Cuba Gooding Jr., sebagai pihak yang terlibat secara langsung atau tidak langsung dalam peristiwa yang dipersoalkan.
Ada laporan mengenai klaim video atau materi kompromi yang bisa muncul dan berpotensi menghancurkan karier orang yang terlibat bahkan jika klaim itu belum terbukti di pengadilan. Misalnya, dalam sebuah dokumenter disebut bahwa alleged video tentang aktivitas Diddy bersama selebritas lain disembunyikan atau dikendalikan agar tidak muncul ke publik.
Dalam kasus yang sedang berjalan ini, lebih dari 100 lelaki dan perempuan melaporkan P Diddy dengan berbagai kasus, mulai dari pelecehan seksual, ancaman kekerasan, pemerasan, dan sebagainya. Dalam salah satu diskusi, Joe Rogan dan Israel Adesanya menengarai hubungan Epstein dengan P Diddy.
Team Jorge: Sistem Disinformasi dan Kontrol Melalui Opini
Salah satu contoh paling konkret dari kontrol massa yang terselubung adalah operasi disinformasi yang diungkap oleh The Guardian bersama lebih dari 30 media kerja sama internasional mengenai “Team Jorge” yang dipimpin oleh Tal Hanan.
Tal, yang menggunakan nama samaran “Jorge”, diyakini oleh para peneliti memiliki kemampuan untuk menggunakan software yang disebut Advanced Impact Media Solutions (AIMS) yang mengendalikan puluhan ribu akun palsu di media sosial untuk menyebarkan narasi palsu. Tal melakukan hacking dan manipulasi bahkan ke akun Gmail dan Telegram staf politik dari kandidat tertentu, dan mengirim pesan palsu untuk menciptakan kekacauan dan konflik.
Tal menawarkan layanan “black ops” kepada kampanye politik, intelijen, dan perusahaan untuk memanipulasi opini publik pada 33 pemilu level presiden di seluruh dunia. Dari operasi hitam itu, Tal memenangkan 27 pemilu. Kontrol bukan hanya tentang propaganda kasar, tetapi tentang menciptakan realitas alternatif yang dipoles melalui jutaan akun palsu dan narasi terkoordinasi. Tal melakukannya dengan baik dari kantor pusat operasi di Tel Aviv.
Epstein dan Kamera Tersembunyi: Pengendalian Kekuasaan Melalui Rahasia Amoral
Berbeda dari poin-poin sebelumnya, kasus Jeffrey Epstein membuka dimensi lain dari kekuasaan yang paling mengerikan: pengawasan yang tersembunyi dan eksploitasi privasi.
Laporan hukum dan pemerintah AS menunjukkan bahwa dokumentasi besar terkait Epstein dan jaringan kameranya menunjukkan adanya ribuan jam rekaman video yang diambil secara tersembunyi di rumahnya, termasuk materi yang kini menjadi bagian dari ribuan dokumen yang ditahan dan diperiksa oleh pihak berwenang.
Jumlah estimasi rekaman rahasia ini, ribuan, bukan hanya menunjukkan skala praktiknya, tetapi juga bagaimana seseorang melalui kekuasaan finansial dan jaringan sosial bisa menyimpan arsip intim kehidupan banyak orang tanpa sepengetahuan mereka.
Epstein dalam imelnya mengatakan kalau dia bekerja untuk Rothschild. Menariknya, dokumen FBI menunjukkan hubungan sangat erat dengan Ehud Barak, Perdana Menteri Israel saat itu, dan dilatih menjadi agen Mossad langsung oleh Ehud Barak.
Sambungkan antara fakta bahwa Rockefeller dan Rothschild punya hubungan erat dalam sejarah Bank Dunia. Rothschild the Second adalah sosok yang dijanjikan tanah Palestina oleh Arthur Balfour, Menlu Inggris pada 1917.
Silahkan sambungkan titik-titik ini secara mandiri.
Kekuasaan sering beroperasi di luar sorotan publik, melalui utang, media, atau jaringan bawah tanah. Kontrol massa bukan hanya soal monolog propaganda, tetapi manipulasi realitas digital dan ekonomi yang membentuk perilaku, pilihan politik, dan opini publik. Reputasi dan privasi adalah alat kekuasaan, melalui rumor, materi kompromi, atau pengawasan tersembunyi.
Kekuatan tak terlihat itulah yang menjadikan gurita kekuasaan secara efektif dapat mempengaruhi kebijakan rejim, taktik politik, solidaritas masyarakat, dan bahkan narasi sejarah.*
