Cara Melatih Anak Berpuasa Ramadhan
Ilustrasi
RAMADHAN sebentar lagi tiba. Aroma khas bulan suci ini mulai terasa, membawa ketenangan sekaligus semangat bagi umat Muslim di seluruh dunia.
Bagi orang tua, Ramadhan bukan sekadar momen meningkatkan kualitas ibadah pribadi, melainkan juga fase krusial dalam menjalankan amanah pendidikan anak atau Tarbiyatul Aulad.
Menyiapkan anak-anak untuk menyambut bulan puasa memerlukan strategi yang matang—paduan antara pemahaman fikih yang benar, pendekatan psikologis yang lembut, serta keteladanan yang nyata.
Puasa Itu Wajib bagi Siapa?
Sebelum melangkah pada teknis mendidik anak, kita perlu menjernihkan landasan hukumnya. Dalam buku “Pedoman Puasa” karya T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, dijelaskan secara gamblang mengenai kriteria individu yang terkena kewajiban (mukallaf) untuk berpuasa.
Berdasarkan syariat, puasa Ramadhan wajib bagi mereka yang memenuhi syarat:
- Beragama Islam.
- Baligh, artinya telah mencapai usia dewasa secara biologis (ditandai dengan mimpi basah bagi laki-laki atau haid bagi perempuan).
- Berakalshat alias tidak dalam kondisi gangguan jiwa.
- Mampu (kuasa). Anak Secara fisik dan mental sanggup menjalankan puasa.
- Mengetahui masuknya bulan Ramadhan.
Bagi anak-anak yang belum mencapai usia baligh, secara hukum fikih mereka belum dibebani kewajiban puasa. Namun, di sinilah letak peran penting orang tua sebagai pendidik pertama.
Mengapa Harus Melatih Anak Sejak Dini?
Jika belum wajib, mengapa kita harus “merepotkan” anak-anak dengan bangun sahur dan menahan lapar?
Syekh Abdullah Nasih Ulwan dalam bukunya “Tarbiyatul Aulad fil Islam” menekankan bahwa pendidikan ibadah harus dimulai sebelum masa taklif (beban kewajiban) tiba.
Melatih anak berpuasa bukan bertujuan untuk menyiksa fisik mereka, melainkan untuk:
- Membiasakan (Al-Adah). Agar saat baligh nanti, puasa bukan lagi beban yang mengagetkan, melainkan kebiasaan yang melekat.
- Pendidikan Ruhani. Melatih kontrol diri, kesabaran, dan empati terhadap kaum dhuafa sejak usia dini.
- Membangun Identitas Muslim. Menanamkan kebanggaan pada identitas keislaman mereka melalui partisipasi dalam syiar Ramadhan.
Nasih Ulwan menggarisbawahi pentingnya metode At-Tadrij atau bertahap. Sebagaimana perintah shalat dimulai sejak usia tujuh tahun, puasa pun demikian.
