Diplomasi Utbah bin Rabi’ah Halangi Dakwah Islam

 Diplomasi Utbah bin Rabi’ah Halangi Dakwah Islam

Ilustrasi: Suasana Masjidil Haram di masa lalu.

DULU DIRINYA menghindari kezaliman. Dulu dirinya menyukai kebijaksanaan. Dulu dirinya menyambung tali silaturahim. Dulu dirinya penengah konflik antar suku. Seluk beluk sihir, perdukunan dan syair ia ketahui. Diplomasi, orasi, negosiasi dan retorika ia kuasai. Keberlimpahan harta pun ia miliki.

Ya kecerdasan, kepiawaian lisan, kekayaan dan kemuliaannya diakui dan dikagumi banyak orang. Tapi sayangnya semua itu tak menjadikan dirinya mengambil petunjuk dan keimanan. Malah menjadikan dirinya terdepan dalam memushi dakwah Islam. Karena kesombongannya menolak kebenaran Siapakah dia?

Dialah Utbah bin Rabi’ah. Dengan kepiawaian lisannya ia mengajukan diri pada pembesar Quraisy untuk meredam dakwah Rasulullah Saw dengan diplomasi dan negosiasi. Dengan harapan besar Rasulullah Saw tertarik dengan tawarannya dan melunak.

Ia sengaja mendatangi Rasulullah Saw di dekat Ka’bah Masjidil Haram. Lalu memulai dengan memanggil Rasulullah Saw dengan sebutan anak golongan kami. Tujuannya agar Rasulullah Saw berkenan mendengar perkataannnya. Selanjutnya Utbah bin Rabi’ah melancarkan aksinya dengan berkata:

“Wahai Muhammad! Siapa yang lebih baik apakah engkau atau kah Hasyim? Siapakah yang lebih baik apakah engkau atau Abdul Muthalib? Siapakah yang lebih baik, apakah engkau atau Abdullah?”

Nabi Saw tak menjawab pertanyaannya. Karena tujuan pertanyaan Utbah adalah untuk membenturkan dirinya dengan keluarganya. Membenturkan agama dirinya dengan agama nenek moyangnya.

Dengan pandangan menyelidik dan merayu, Utbah bin Rabi’ah menawarkan Rasulullah Saw pada hal-hal yang kerap menggoda iman laki-laki. Utbah bin Rabi’ah berkata:

“Muhammad kami tahu, engkau adalah orang yang berbudi pekerti tinggi, namun ajaran yang engkau bawa telah memecah belah kami. Oleh karena itu kami menawarkan sesuatu yang akan menguntungkanmu dan kami semua. Jika yang engkau inginkan adalah kekayaan, kami akan mengumpulkan harta hingga engkau akan menjadi orang terkaya di Mekah. Jika engkau menginginkan kehormatan, kami akan menjadikan engkau pemimpin kami dan tidak ada keputusan yang akan diambil tanpa persetujuanmu. Jika engkau menginginkan kekuasaan, kami bahkan siap menjadikanmu raja diatas kami. Jika engkau inginkan wanita maka kami akan menikahkan engkau dengan sepuluh wanita yang bisa engkau pilih dari wanita Quraisy sekehendakmu. Jika engkau merasa diganggu oleh sesuatu atau berfikir bahwa yang engkau alami adalah gangguan jin, kami akan menyediakan tabib terbaik untuk mengobatimu.”

Sungguh tawaran Utbah bin Rabi’ah begitu menggiurkan. Karena yang ditawarkannya adalah surga duniawi. Banyak yang berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Tapi Utbah bin Rabi’ah salah sasaran. Tawaran tersebut sama sekali tak direspon oleh Rasulullah Saw. Karena dakwah Rasulullah Saw bukan berorientasi pada syurga duniawi tapi surga akhirat.

Rasulullah menatap Utbah bin Rabi’ah dengan tenang dan penuh wibawa. Rasulullah Saw tetap diam menunggunya selesai berbicara. Lalu Beliau Saw berkata: “Aku tidak menginginkan harta, kekuasaan atau kehormatan dunia. Yang aku inginkan adalah agar kalian menyembah Allah Yang Maha Esa dan meninggalkan berhala-berhala kalian.”

Lalu Utbah bin Rabi’ah mencoba tawaran lain yang lebih mengejutkan. Ia berkata: “Bagaimana jika kita beribadah kepada Tuhanmu selama satu tahun, dan engkau beribadah kepada tuhan-tuhan kami di tahun berikutnya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

8 + 12 =